Kesempurnaan Adalah Sebuah tujuan

     Dalam suatu hadist Rasulallah (saw) bersabda: Tamak kepada dua masalah yang seseorang tidak akan pernah merasa kenyang atau puas darinya yaitu tamak pada ilmu dan  harta[1] .  Dan Imam Ali (as) dalam suatu hadist bersabda: Perumpamaan dunia bagaikan ular berbisa yang kulitnya terasa lembut tetapi di dalamnya terdapat bisa (racun) yang dapat mematikan.[2]  

Kesempurnaan Adalah Sebuah Tujuan

Oleh: Uma Zafazl                                                                  

     Pernahkah kita berpikir bahwa sebenarnya untuk apa Allah menciptakan kita sebagai hamba-hambaNya? Padalah manusia itu adalah makluk paling sempurna dibandingkan mahluk-mahluk Allah yang lainnya. Seperti dalam surat At-Tin ayat 4  Allah (swt) berfirman: Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Tujuan Allah menciptakan manusia adalah hanya untuk beribadah dan bertaqarrub kepada-Nya. Allah (swt) berfirman: “Dan tidak Aku ciptakan  jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.”(QS Adz-Dzariyaat 56)                  

     Berdasarkan firman Allah di atas, kita hamba-hambaNya diciptakan untuk menuju kepada kesempurnaan maknawi, kerena dari sisi inilah manusia dapat mengangkat derajatnya pada  kesempurnaan. Sayangnya, masih banyak sebagian dari kita yang keliru dengan cara menduga bahwa kesempurnaan  itu hanya bisa diperoleh dengan cara mencari ilmu dan harta. Memang benar dengan ilmu dan harta kita bisa mencapai suatu kesempurnaan. Akan tetapi, itu semua memerlukan syarat, yaitu jika kita anggap ilmu dan harta tersebut kita jadikan sebagai wasilah atau perantara untuk mencapai kesempurnaan tersebut.

     Dalam suatu hadist Rasulallah (saw) bersabda: Tamak kepada dua masalah yang seseorang tidak akan pernah merasa kenyang atau puas darinya yaitu rakus pada ilmu dan  rakus pada harta[3] .  Dan Imam Ali (as) dalam suatu hadist bersabda: Perumpamaan dunia bagaikan ular berbisa yang kulitnya terasa lembut tetapi di dalamnya terdapat bisa (racun) yang dapat mematikan.[4]                     

      Berapa banyak orang yang memiliki ilmu, namun mereka tidak juga memperoleh kesempurnaan itu, dan berapa banyak orang yang memiliki harta namun mereka malah terjerumus dalam perkara duniawi dan lupa akan akherat. Oleh karena itu, kita diperintahkan untuk berdoa dan berlindung kepada Allah (swt) dari hal-hal yang tidak bermanfaat, “Ya Allah aku berlindung pada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat”.      Dalam sebuah hadist dikatakan bahwa salah seorang dari sahabat Imam Shadiq (as) berkata,” Aku cinta dunia dan aku cinta harta, karena dengan hartaku di dunia ini aku dapat melakukan ibadah haji, bersedekah, dan menolong fakir miskin. Imam bersabda: Semua perkara yang engkau sebut bukanlah perkara duniawi, akan tetapi semua itu adalah akherat.”

     Berikut ini, akan saya uraikan sebagian dari syarat-syarat dan metode untuk mencapai kesempurnaan maknawi, yaitu dengan melatih diri kita untuk tidak melakukan hal-hal yang menggangu niat dan tujuan kita dalam pencapaian kesempurnaan.          

     Ada beberapa hal yang harus kita tinggalkan dan jauhi dari beberapa sifat buruk yang di larang Allah(swt), contohnya adalah seperti ghibah  (membicarakan keburukan orang lain), riya’ (mempertontokan pekerjaan baik guna disanjung), hasad (tidak suka dengan kesenangan orang lain), takabbur (sombong),  dusta dan yang lainya.Dan untuk sementara ini saya hanya ingin membahas dua permasalahan yang pertama adalah dusta dan yang kedua adalah sombong. 

Pertama: Dusta           

     Berdusta adalah termasuk salah satu kelompok dari dosa-dosa besar. Rasulallah (saw) bersabda: Tujuh puluh ribu malaikat akan melaknat disaat seorang mukmin berbohong tanpa alasan, dan akan keluar bau busuk dari hatinya. Dikarenakan Allah akan mengganjar orang-orang yang berbohong dengan dosa tujuh puluh orang yang berzina, dan paling sedikitnya siksaan para pembohong adalah seakan-akan berzina dengan ibunya.           Ditilik dari hadist di atas, dapat kita bayangkan betapa besar dosa seorang yang melakukan suatu kebohongan. Mudah-mudahan kita bukan termasuk dari golongan orang-orang tersebut.Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?  Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (Ash shaff 2&3) 

Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka Itulah orang-orang pendusta.(An-Nahl 105) 

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “Ini halal dan Ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.(An-Nahl 116) 

      Imam Ali (as) bersabda: seorang mukmin tidak akan merasakan nikmatnya keimanan sampai ia meninggalkan kebohongan baik itu sungguh-sungguh atau bergurau. Dalam hadist yang lain beliau juga bersabda, sedapat mungkin seseorang harus meninggalkan kebohongan baik itu bergurau ataupun tidak, dan jangan sampai kamu berjanji kepada anak-anakmu kemudian tidak engkau tepati, karena berbohong itu menarik kamu pada kemaksiatan dan orang yang melakukan kemaksiatan (dan tidak bertaubat) tak lain tempatnya adalah neraka. 

Kedua: Sombong

      Sombong adalah satu sifat yang dimiliki oleh seseorang yang merasa bahwa dirinya memiliki kelebihan dari orang lain baik itu dalam kepintaran, kekayaan, kecantikan dan lain-lain. Dengan mengatakan bahwa tidak ada orang lain yang melebihinya dan lebih tinggi darinya. Bentuk kesombongan, menurut Imam Shadiq (as) ada tiga yaitu sombong kepada Allah, sombong kepada Rasul dan para Imam dan sombong pada hamba-hambaNya.

      Kesombongan  kepada  Allah adalah sikap melanggar perintah-perintahNya dan melakukan semua larangan-laranganNya, karena dengan semua hal itu berarti kita telah berani mendahului Allah (swt) dan kita telah keluar dari jalan yang benar.

      Kesombongan kedua adalah merasa dirinya lebih dari pada ma’sum ( Nabi dan para Imam) dengan tidak mentaati dan mengamalkan apa yang telah di perintahkan mereka. Seperti apa yang telah dilakukan Fir’aun terhadap Nabi Musa (as).

      Adapun golongan ketiga yaitu sombong terhadap sesama hamba Allah dengan artian bahwa ia merasa lebih dan tidak mau mendengar nasehat orang lain. Ia menginginkan orang tunduk kepadanya dan baginya orang lain tidak lebih dari seekor hewan yang tidak perlu di hargai. Seandanya ia memiliki harta, tidak ingin ia sedekahkan harta tersebut kepada fakir  miskin dan  juga tidak ingin melaksanakan sholat berjamaah bersama mereka.

      Dibawah ini saya bawakan firman Allah (swt) mengenai hal ini (sombong) dalam beberapa surah:

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. Yang demikian itu adalah Karena mereka mendustakan ayat-ayat kami dan mereka selalu lalai dari padanya.”    (Al-A’raf 146) 

(Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.(Al-ghafir-35) Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.(Al-ghafir- 60) 

Dan Sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi.(Al-Mukminun-34) 

Dan mereka berkata: “Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?” (Al-Mukminun 47) 

Berkata rasul-rasul mereka: “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?” mereka berkata: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, Karena itu datangkanlah kepada kami, bukti yang nyata”.          (Ibrahim 10)          

       Setelah melihat beberapa dalil di atas yang menunjukkan berapa ruginya orang-orang yang sombong dan suka berdusta dan semoga Allah selalu melindungi kita dari perbuatan-perbuatan tercela tersebut. Dan di akhir pembahasan ini saya akan membawakan sebuah  ayat Al-Quran dan semoga dengan membaca ayat tersebut membuat kita sadar siapakah kita sebenarnya dan semoga kita bukan termasuk orang-orang yang rugi dan zalim.         

Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.( Al-Hujuraat 11)


[1]  Musnad Ahmad Jilid 4 hal 367.

[2]  Biharul Anwar  jilid 33 hal 484.

[3]  Musnad Ahmad Jilid 4 hal 367.

[4]  Biharul Anwar  jilid 33 hal 484.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: