Manifestasi Ibadah Syaidah Zahra (sa)

infallible37.jpgDan Imam Shadiq (as) bersabda: “Ketika Fathimah berdiri melakukan sholat, cahayanya menerangi penduduk langit, sebagaimana para utusan Tuhan yang menebarkan cahaya untuk penduduk bumi.” 

Manifestasi Ibadah Syaidah Zahra (sa)

Ibadah dan penyembahan kepada Allah (swt) adalah merupakan salah satu pondasi yang sangat penting dari ajaran-ajaran yang disampaikan para nabi dan rasul. Ibadah adalah sebuah jembatan yang menyampaikan makhluk kepada kholik sang pencipta, hamba kepada tuannya, manusia kepada Tuhannya. Ibadah adalah sebuah contoh penyembahan dan pujian kepada Allah yang memiliki kesempurnaan mutlak, tidak butuh pada suatu apa pun. Ibadah adalah sebuah penampakkan rasa syukur dan ucapan terimakasih kepada Allah (swt), bahwa seluruh nikmat dan kebaikan yang ada ini, datang dariNya.   “Tidak ada pada kalian satu kenikmatan pun, kecuali datang dari Allah”[1]   

Ibadah adalah merupakan sebuah tugas yang dipikul manusia, sebagai taklif dari Tuhannya, yang hasilnya adalah pendekatan diri kepada Allah (swt). 

Akan tetapi, setiap individu tidak sama dalam memahami dan mencerna makna ibadah itu sendiri. Sebagian orang memandang ibadah adalah semacam perdagangan dan penggadaian, pertukaran jam kerja dengan upah dan gaji, penjualan dan pengambilan untung. Persis sama dengan sebuah pabrik, yang perharinya mempekerjakan beberapa tenaga kerja, kemudian sebagai imbalannya adalah gaji harian yang akan ia dapatkan. Begitu pula dengan seorang hamba yang telah bersusah payah tunduk dan ruku melakukan sholat dan sembahyang, dan pasti ia juga akan mendapatkan imbalan upah yang biasa disebut sebagai pahala, namun pahala  itu akan ia dapatkan di dunia lain, dunia yang dijanjikan Allah swt, yaitu dunia akherat.

Pandangan orang semacam ini adalah pandangan orang yang menganggap bahwa stuktur ibadah adalah terpokus pada keadaan jasmani dan gerakan panca indra zahir yang dapat dilakukan dengan menggunakan sarana lidah dan anggota badan lainnya. Dan ini adalah sebuah pemahaman orang awam dan orang yang tidak tahu hukum, Abu Ali Sina dalam metode ke sembilan dari kitab Al-isyarat menginterpretasikannya sebagai orang yang tidak memiliki pengenalan kepada Allah (swt), dan yang dapat diterima amalannya hanya masyarakat awam dan orang yang tidak tahu. 

Pandangan lain dari ibadah adalah pandangan irfani dan tasawwuf, dalam pandangan ini, tak akan terucap dan tak akan terlontar kata-kata upah dan gaji, pekerja dan pemerintah. Namun dalam pemahaman ini yang ada bahwa ibadah adalah sebuah tangga jalan yang mendekatkan kita kepada Tuhan, ibadah adalah mi’raj seorang insan yang menuju Tuhannya, ibadah adalah jiwa yang membumbung tinggi, dan ruh yang terbang menuju alam malakut, ibadah adalah mendidik kesiapan mental dan melatih kekuatan jiwa insani, ibadah adalah kemenangan ruh atas badan, ibadah adalah setinggi-tingginya interaksi ucapan syukur seorang manusia kepada sang maha pencipta, ibadah adalah penampakan rasa cinta dan sayang seorang insan, kepada yang maha sempurna dan maha indah secara absolut, dan akhirnya ibadah adalah perjalanan sair dan suluk kepada Allah swt.[2]   

Memang benar, Sayyidah Az Zahra (sa), ketika berdiri beribadah menghadap Allah (swt), dengan hati yang penuh dengan keimanan dan kecintaan kepadaNya, dan ibadah irfani yang beliau lakukan begitu khusuk seakan-akan beliau pergi melakukan mi’raj dan jiwanya terbang ke alam  kudus, sepertinya beliau tidak berada di dunia ini.Rasulallah saww bersabda: 

 “Iman kepada Tuhan yang berada dalam hati dan jiwa Fathimah, begitu merasuk dan menyebar luas, sehingga ketika beliau beribadah menghadap Allah swt, beliau melepaskan dirinya dari segala urusan.”

 Dan Imam Shadiq (as) bersabda:  “Ketika Fathimah berdiri melakukan sholat, cahayanya menerangi penduduk langit, sebagaimana para utusan Tuhan yang menebarkan cahaya untuk penduduk bumi.” 

Juga diriwayatkan dari Imam Hasan (as), beliau bersabda: “Aku melihat ibuku setiap malam jum’at berdiri melakukan ibadah di Mihrabnya. Dan ia teruskan semalaman untuk beribadah kepada Allah, sholat dan bermunajat di bawah sorotan cahaya kamar, sampai pada saat pancaran cahaya fajar mulai tampak dan kegelapan malam sedikit demi sedikit mulai hilang, dan mulai berganti subuh, beliau masih meneruskan ibadahnya. Aku selalu mendengar ia mendo’akan mukminin dan mukminat, dan satu persatu ia sebutkan nama-nama mereka. Setelah itu ia mendo’akan seluruh ummat islam, namun ia tak pernah meminta dan memohon untuk dirinya sendiri. Lalu aku bertanya: “wahai ibuku, engkau selalu mendo’akan orang lain, tapi mengapa engkau tidak pernah berdo’a untuk dirimu sendiri?! Beliau menjawab: “Wahai anakku ((  الجار ثم الدار  aljaar tsuma addaar (( yaitu pertama kali yang harus diperhatikan adalah tetangga kemudian  keluarga sendiri.[3] 

Begitu pula Hasan Al-Bashri seorang zahid yang terkenal berkata:  “Tidak akan pernah ada dari umat islam yang lebih ‘abid dari Fathimah (as), beliau begitu banyak berdiri untuk beribadah sehingga kedua kakinya membengkak.”       

Setiap kali masuk waktu sholat, Fathimah Zahra (as) menarik nafas panjang, karena takut kepada Allah SWT. dalam sebuah hadits  Rasulullah (saw) bersabda:

“Adapun putriku Fathimah (as) sesungguhnya ia adalah penghulu wanita seluruh alam dari pertama sampai terakhir”, lalu beliau meneruskan sabdanya: “Ketika beliau berdiri di mihrabnya menghadap Tuhan, cahayanya menyinari para malaikat, sebagaimana bintang-bintang di langit menyinari penduduk bumi, dan Allah (swt) kepada para malaikatnya berfirman: “Wahai malaikatku lihatlah hamba perempuanku ini Fathimah, sesungguhnya ia adalah penghulu para hamba perempuanku, yang berdiri beribadah menghadapku, dan badannya bergetar takut karena maqam  kedudukanku, ia melakukan ibadah dan ketaatan dengan sepenuh hati dan jiwanya, kalian para malaikatku, aku jadikan kalian saksi bahwa para syiah dan pengikut  Fathimah aku amankan dan aku jauhkan mereka dari api neraka jahanam.”[4]       

Oleh: Abi zafazl


[1] Surah An-nahl ayat 53.[2] Kutipan dari kitab “Sairi Dar Nahjul Balagah karangan ustazd Syahid Mutohhari. Hal. 61

[3] Kitab “Mahjatul baidho” karangan Faith Kashani. Jilid.4. Hal. 208

[4] Kitab “Mizanul Hikmah” Jilid. 4. Hal. 382

Satu Balasan ke Manifestasi Ibadah Syaidah Zahra (sa)

  1. nargis mengatakan:

    saloom…
    selamat atas kelahiran Wanita agung nan suci.
    silahkan main ke agis..

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: