13 RAJAB, MAULUDUL KA’BAH

imam_ali_21.jpgImam pertama kaum mukminin, khalifah Allah secara langsung setelah rasulullah saww sebagai nabi terakhir, saudara, anak paman, penolong dan sekaligus menantu beliau, Amirul Mukminin  Ali bin Abi Thalib as, pada tanggal 13 Rajab, lahir ke dunia ini di rumah Allah swt, di tanah haram, di dalam ruang Ka’bah yang agung, yang sebelum dan setelahnya tidak akan ada seorangpun yang akan dilahirkan disana. Nama mulianya adalah Ali. Penulis buku berjudul Al-Anwar berkata: Ali bin Abi Thalib as memiliki 300 nama dalam Alquran. Dan paling termasyur dari laqab yang beliau miliki adalah Amirul Mukminin. Dan mengenai laqab beliau Ibnu Syahr Asyub menyebutkannya lebih dari 850 laqab. 

Laqab-laqab Amirul Mukminin as 

Panggilan termasyhur yang beliau miliki adalah Abul Hasan as. Selain laqab-laqab dan nama-nama yang beliau miliki, beliau juga memiliki panggilan khas yang tercantum dalam kitab-kitab samawi dalam bahasa yang berlainan. Sebagaimana beliau dikenal dengan penduduk langit dengan sebutan Syamsya Theil, penduduk bumi mengenal beliau dengan sebutan Jamhaiil. Dalam lempengan-lempengan dikenal dengan Qansum, dalam tulisan pena dikenal dengan Mansum. Di singgasana arsy Tuhan dbeliau dikenal dengan sebutan Muin, di sisi surga Ridwan dikenal dengan sebutan Amin dan di sisi bidadari Ashab, dalam suhuf nabi Ibrahim dikenal dengan sebutan Hazbil, dalam bahasa ibrani dikenal dengan Bilqiatis, dan dalam bahasa suryani Syaruhil, dalam kitab Taurat dikenal dengan Iliya, dalam kitab Zabur dikenal dengan sebutan Arya, dan dalam kitab Injil dikenal dengan sebutan Birya. Dalam Suhuf disebut Hajarul Ain dan dalam Alquran dikenal dengan sebutan Ali. 

Kedua orang tua Amirul Mukminin as 

Ayahnya memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat arab yang dikenal dengan sebutan Sayyidul Batha (penghulu jazirah Makkah atau sekitarnya) Abu Thalib as dan ibunya adalah Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdul Manaf, seorang wanita mulia istri Abu Thalib, wanita pertama dari keluarga Bani Hasyim yang dengan kesucian dan iffah yang beliau miliki berhasil menyandang keagungan sebagai orang yang layak dan pantas untuk melahirkan putra pilihan sebagai penghulu imamah dan wilayah. 

Beliau bukan hanya ibu bagi Amirul Mukminin saja, akan tetapi beliau juga ibu bagi Rasulullah saw, dimana setelah kakek beliau Abdul Muthalib wafat, yang ketika itu umur nabi tidak lebih enam atau delapan tahun, beliau diserahkan kepada Abu Thalib as, Fathimah binti Asad memperlakukan Nabi seperti anaknya sendiri, bahkan ia mendahulukan keperluan Nabi dibanding keperluan anak-anaknya. Dan setiap harinya beliau menyaksikan alamat dan tanda-tanda kenabian pada Rasulullah saww, dan nabi memanggilnya dengan panggilan ibu.

 Begitu pula ketika Sayyidah Khadijah Kubra wafat, Rasulullah menyerahkan putri beliau Fathimah Zahra  kepada Fathimah binti Asad dan beliau betul-betul menjadi ibu bagi Fathimah Zahra, karena sungguh dengan hati dan jiwanya, beliau mengasuh Fathimah Zahra hingga ia menemui ajalnya.

 Beliau Fathimah binti Asad meninggal pada tahun ke empat hijriah di kota Madinah, dan dimakamkan dipemakaman Baqi. Ketika Amirul Mukminin memberitakan kematian ibunya kepada Rasulullah saww, beliau langsung bersabda: dia adalah ibuku. Kemudian kain yang dipakai oleh Rasulullah sebagai imamah dan baju diberikan untuk dijadikan sebagai kain kafan untuk Fathimah binti asad, dan belaiu sendiri yang menyolati jenazah beliau dengan 40 takbir. Beliau bersabda: sengaja aku menyolatinya dengan 40 takbir karena 40 barisan dari para malaikat berbaris datang untuk menyolatinya. Kemudian beliau diletakkan di dalam kuburnya dan ditalqini oleh Rasulullah dan kemudian beliau mendoakannya. 

Cahaya Amirul Mukminin as dalam Tulang Punggung Ayah-ayahnya 

Hadis tentang kelahiran Amirul Mukminin Ali as juga menunjukkan atas keimanan Fathimah binti Asad as, ibu beliau. Sebuah cahaya yang keluar dari singgasana arsy Tuhan, yang kemudian berpindah-pindah dari salah satu nabi ke nabi-nabi yang lainnya, hingga samapi pada Abdul Muthalib, dan kemudian cahaya itu terbelah menjadi dua bagian. Cahaya itu berpindah kepada pasangan Abdullah dan Aminah yang kemudian cahaya itu terealisasi dalam bentuknya yang sempurna yaitu nabi besar Muhammad saww. Dan cahaya yang kedua berpindah pada pasangan Abu Thalib dan Fathimah binti Asad dan terealisasi dalam bentuknya yang sempurna yaitu Ali bin Abi Thalib as. 

Allah swt memberikan Abu Thalib beberapa orang anak, yaitu Aqil, Thalib, Ja’far, Fakhtah atau Ummu Hani, Jumanah dan Ali Amirul Mukminin as. Ketika Allah memberikan Ali as kepada pasangan Abu Thalib dan Fathimah binti Asad, cahaya itu terlihat tampak bersinar pada wajah Fathimah binti Asad. 

Tempat Kelahiran Amirul Mukminin as 

Tempat kelahiran Amirul Mukminin as adalah paling termulyanya tempat, yaitu tanah Haram, dan paling termulyanya tanah haram adalah masjid, dan tempat termulyanya masjid adalah Ka’bah, di situlah belaiu dilahirkan, yang tidak pernah terjadi sebelum dan sesudahnya kecuali pada beliau, dan itupun terjadi pada hari jumat sebagai penghulu hari-hari dan pada bulan haram di tanah haram. 

Amirul Mukminin selama tiga hari setelah beliau dilahirkan tidak membuka matanya, hingga dibawa dan bertemu Rasulullah saww, ketiak itu disanalah beliau membuka matanya. Belaiu mengutarakan bahwa: Dia dengan penuh keistimewaan meletakkanku pada pandangannya dan aku dengan istimewa meletakkan ilmuku padanya. Kemudian beliau menggendongnya dan dibawa ke rumah Abu Thalib as. 

Ramalan dari Kelahiran Amirul Mukminin as 

Sahabat Jabir bin Abdillah Al-Anshori berkata: Ada seorang rahib yang bernama Masram bin Rai’ib  yang selama 190 tahun beribadah, namun tidak satu hajatpun ia minta kepada Allah swt. Pada suatu hari ia meminta kepada Allah agar ditampakkan kepadanya salah seorang dari para waliNya, kemudian Allah swt mengirim Abu Thalib datang ke sisinya, dan ketika rahib tadi mengetahuinya ia memberikan Abu Thalib kabar gembira dan berkata: Wahai Abu Thalib Allah akan memberikanmu seorang anak dan dia adalah salah satu dari wali Allah swt dan namanya yang mulia adalah Ali. Ketika engkau melihat dan menemuinya, sampaikan salamku padanya, dan katakana padanya bahwa Masram seorang rahib, mengakui akan keesaan Tuhan dan bersaksi kepada wilayah dan kepemimpinanmu.

 Ketika Abu Thalib berkehendak pulang, memakan sedikit buah-buahan surga seperti kurma, anggur dan delima kemudian datang ke rumah. Fathimah binti Asad istri Abu Thalib as juga memakan kurma yang diberikan oleh rasulullah itu kepadanya, kemudian Rasulullah bersabda: kurma ini, seorang yang memakannya adalah yang akan mengakui ketuhanan dan kenabianku,  

Setelah kedua orang tua Amirul Mukminin memakan buah-buahan surga, esensi dan keberadaan Amirul Mukminin mulai dirasakan dan ketika Fathimah binti Asad mengandung putra pilihan tersebut, sinarnya menambah  kecantikan dan cahaya yang beliau miliki. 

Terbentuknya Cairan Janin Amirul Mukminin 

Ketika esensi Amirul Mikminin dalam perut Fathimah binti Asad as telah berbentuk cairan yang akan menjadi janin, sebuah peristiwa gempa dan goncangan yang dahsyat terjadi di kota Makkah, dan orang-orang Quraisy membawa patung-patungnya keatas gunung Abu Qubais, akan tetapi gempa semakin dahsyat dan patung-patungpun berjatuhan. Mereka semua berlindung pada Abu Thalib as, dan beliau datang ke puncak gunung dan berkata: “Wahai masyarakat arab, pada malam ini telah terjadi sebuah peristiwa penting, yaitu Allah swt telah menciptakan seorang makhluk yang jika kalian tidak mentaatinya dan tidak mengakui akan wilayah kepemimpinannya dan tidak bersaksi akan keimamahannya, gempa ini tidak akan berakhir, oleh karena itu taatilah, akuilah dan wilayah dan kepemimpinannya” dan dalam keadaan air mata berlinang beliau menengadahkan kedua tangannya dan berdo’a: “Wahai Tuhanku dan junjunganku, aku memanggilmu dengan Muhammadmu yang terpilih, dengan Alimu yang tinggi derajatnya dan dengan Fathimahmu yang bercahaya dan bersinar, turunkanlah rahmat dan kasih sayangmu pada tanah dan bumi yang gersang ini” dan yang lain mengucapkan Amin. Setelah bacaan do’a selesai, gempa pun tak terasa lagi. Orang-orang arab ketika mereka mengalami malapetaka dan kesulitan mereka menggunakan dan membaca do’a tersebut dan kesulitan dan malapetakapun sirna.[]

2 Balasan ke 13 RAJAB, MAULUDUL KA’BAH

  1. islam feminis mengatakan:

    Salom…
    Bagus sekali artikelnya…
    Kami pun mengucapkan ‘Selamat atas Kelahiran Imam Ali as’ kepada seluruh pecintanya dimana pun berada, khususnya untuk pemilik blog ini.
    Khuda hafiz

  2. keluargaabi mengatakan:

    Salam,
    Kami ucapkan terimakasih, atas ungkapan selamat yang anti berikan, dan kami juga ucapkan asadallah ayamaki bil khusus dan asadallah ayamana wa ayamakum, semoga kita masih dijadikan orang-orang yang berpegang teguh pada wilayahnya.
    Amin.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: