Syahid Al-Mihrab Ali bin Abi Thalib as

infallible292.jpgPada waktu subuh, hari ke 19 bulan suci Ramadhan, setelah azan subuh dikumandangkan Imam Ali memasuki masjid dan suara beliau yang indah terdengar membangunkan orang-orang yang tertidut di dalamnya. “Ayuhan naas, assholah”, wahai manusia, waktu sholat telah tiba bangkitlah!

________________

Pada tahun ke empat puluh, sekelompok dari kaum Khawarij berkumpul di kota Makkah dan menagisi orang-orang yang terbunuh pada peperangan Nahrawan. Tiga orang dari mereka satu sama lainnya saling mengikat janji untuk membunuh Amirul mukmini Ali as, Amru bin Ash dan Muawiah, pada satu malam yang sama.

Ibnu Muljam mendapat tugas untuk membunuh Ali as dan telah memasuki kota Kuffah. Dengan dibantu oleh seorang perempuan bernama Qutham bunti Akhdor, dan Ibnu Muljam dijanjikan akan menikah dengannya, juga dibantu oleh Syabib bin Bajrah dan Wardan bin Mujalah, rencana itupun disususn dan dilakukan. 

Pada tanggal 13 bulan Ramadhan tahun 40 H, Imam Ali as setelah menyekesaikan peperangan Nahrawan, telah mendapat berita akan kesyahidannya[1]. Pada hari itu beliau berdiri di atas mimbar, menyampaikan ajaran-ajaran islam dan setelah menjelaskan kebenaran-kebenaran akan hakekat islam, beliau bersabda kepada anak sulungnya Imam Hasan as: hingga saat ini berapa hari dari bulan Ramadhan telah lewat? Imam hasan berkata: telah lewat 13 hari, kemudian beliau bertanya kepada Imam Husain: kemudian berapa hari tersisa? Imam Husain berkata: Tersisa tinggal 17 hari. Ketika itu Amirul Mukminin mengusap hiasannya yang mulia (jenggotnya) dan bersabda: sudah dekat waktunya rambutku ini tersimbahkan dengan darah 

Pada malam ke 16 bulan Ramadhan tahun 40 H, Imam Ali as bermimpi bertemu dengan Rasulullah saww, dan beliau memberi kabar gembira kepada Amirul Mukminin  akan kedekatan waktunya untuk bertemu dengan beliau di surga. Kemudian beliau memberitahu kepada putrinya Ummu Kulsum. [2] Dan pada malam ke 19 ia akan berbuka puasa di rumahnya.[3]  

Pada malam 19 bulan Ramadhan tahun 40 H, dua orang bernama Wardan dan Syabib, keduanya bersama Ibnu Muljam ikut andil dalam mensyahadahkan Amirul Mukminin as, dan keduanya mati terbunuh dalam pertengkaran.[4]

Pada waktu subuh, hari ke 19 bulan suci Ramadhan, setelah azan subuh dikumandangkan Imam Ali memasuki masjid dan suara beliau yang indah terdengar membangunkan orang-orang yang tertidut di dalamnya. “Ayuhan naas, assholah”, wahai manusia, waktu sholat telah tiba bangkitlah! 

Kemudian beliau memulai sholatnya. Ketika pada rakat pertama beliau mengangkat kepala dari sujudnya Syabib melancarkan serangannya kepada Ali as, namun pedangnya terpeleset dan salah keluar dari sasaran, secara sontak Ibnu Muljam (semoga laknat Allah tercurah padanya) melancarkan serangannya dan pedangnya membelah bagian tengah kepala mulia Ali as dan jenggot mulia beliau bersimbahkan darah yang keluar dari kepala yang terbelah oleh pedang, dan suara sucinya terdengar keras: “Bismillah wa billah wa ala millati Rasulillah, fuztu wa rabbil Ka’bah”.  Dengan nama Allah, dan demi Allah, dan atas agama dan ajaran Rasulullah, aku telah jaya (menang, bebas) dan demi Tuhan Ka’bah.

Inna lillah wainna ilahi rajiuun


[1]Alwaqaai’u wal hawadis jilid 1, hal. 139, Mustadrak safinatul bihar, jilid 5, Hal. 213

[2]Irsyad: jilid 2, hal. 15, Alwaqaai’u wal hawadis, jilid 1, hal. 190

[3]Alwaqaai’u wal hawadis, jilid 1, hal. 242

[4]Nafaihul allaam, hal. 41

Satu Balasan ke Syahid Al-Mihrab Ali bin Abi Thalib as

  1. islam feminis mengatakan:

    Duka cita kami sampaikan kepada semua pecinta Imam Ali as.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: